Gangguan Jiwa, 95% Penyebab Kasus Bunuh Diri
Kasus bunuh diri 95% dilakukan oleh orang yang mengalami gangguan jiwa. Gangguan jiwa tidak selalu identik dengan gila. Puncak pelaku bunuh diri umumnya para remaja, namun tidak menutup kemungkinan juga para lansia.
Demikian disampaikan Kepala Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Dr. Warih Andan Puspitosari, SpKJ dalam diskusi “Fenomena Bunuh Diri di Indonesia dan penyebabnya”, di Kampus Terpadu UMY Kamis (7/12).
Lebih lanjut Warih menjelaskan gangguan jiwa bisa dikenali dalam bentuk perubahan kognitif atau pikiran, perasaan dan perilaku pada penderitanya. “Gangguan jiwa yang berat biasa disebut dengan gila biasanya orang tersebut senyum-senyum sendiri, marah-marah dan juga bicara sendiri. Sedangkan gangguan jiwa yang ringan seperti cemas berlebihan, putus asa, maupun depresi” urainya.
Terkait dengan banyaknya kasus bunuh diri yang akhir-akhir ini sering terjadi, Warih memaparkan mayoritas orang melakukan bunuh diri karena depresi. “Depresi merupakan perubahan alam perasaan, tanda-tandanya sedih berlebihan, minat terhadap apapun menurun, energi berkurang, lemas, malas,” tuturnya.
Puncak pelaku bunuh diri berkisar dari usia 15-35 tahun dan lanjut usia (lansia). 15-35 tahun karena pada usia tersebut sebagian besar adalah remaja. “Dimana remaja merupakan usia produktif. Banyak stressor atau hal-hal yang dapat menimbulkan stress pada remaja. Misalnya timbul perasaan rendah diri karena tidak memiliki handphone seperti teman-temannya, atau diejek teman-temannya yang kemudian menyebabkan depresi” urainya.
Sedangkan lansia, masa-masa timbulnya perasaan kehilangan banyak hal. ”Misalnya pensiun, yang awalnya bekerja menjadi tidak bekerja, anak-anaknya mulai mandiri sehingga merasa tidak dibutuhkan atau kehilangan peranan dalam keluarga.” tambahnya.
Bunuh diri terjadi karena orang tersebut tidak mampu beradaptasi dengan stressor. Orang yang mampu beradaptasi dengan stressor adalah orang-orang yang mempunyai kepribadian yang kuat dan matang.
Stressor akan ada sepanjang hidup sehingga gangguan jiwa maupun bunuh diri tidak bisa dicegah dengan menghilangkan stressor. “Tetapi akan lebih efektif jika membuat orang memiliki kepribadian yang matang maupun kepribadian yang kuat.” paparnya.
Kepribadian yang matang bisa dimulai sejak kecil atau anak-anak. Anak-anak merupakan bakal awal sehingga lingkungan berpengaruh dalam menentukan kepribadian sesorang. Sejak anak-anak hingga dewasa selalu melalui proses belajar dari lingkungan keluarga maupun lingkungan masyarakat.
Jika dari kecil selalu melihat orang yang melampiaskan kemarahan dengan membanting barang-barang di sekitarnya maka dia juga akan belajar melakukan hal yang sama. Sehingga keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam menentukan kepribadian seseorang. “Bagaimana keluarga bersikap, pola pengasuhan yang benar menentukan kematangan kepribadian seseorang” tandas Warih.