Ekonomi Kreatif Dibutuhkan Untuk Bendung Krisis Ekonomi Global

Kamis, 4 Juni 2009 Oleh: Goo:)

img_9787‘Dengan hanya modal semangat bisa menghasilkan bisnis yang berhasil”, demikian penyataan Febri Triyanto salah satu pendiri bisnis franchise snack ketela dengan nama Tela-Tela. Wirausaha muda ini mengatakan hal tersebut dalam acara talk show economics “Jogja Kreatif : Mengatasi Problematika Ekonomi dan Bisnis dalam Keterpurukan Ekonomi Global” diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Ilmu Ekonomi (HIMIE) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) Kamis (4/6) di Lt 5 Gd. AR. Fachrudin B.

Berawal dari ingin mengembalikan utang-utang keluarga dan keinginan untuk tetap kuliah, Febri Triyanto berhasil meraih kesuksesan dalam bisnis ketela pohon. Hanya dengan modal 1 grobak dan 1 kompor,  ia pun memulai usaha.

Febri menceritakan, pada awalnya berbagai macam usaha  ia dilakukan mulai dari membuka warung bubur kacang ijo, computer rental, hingga mengajari tugas kuliah temannya. “Pekerjaan tersebut saya kerjakan nonstop karena saya harus melunasi hutang keluarga kurang lebih tiga tahun,” paparnya.

Selanjutnya, Febri pun beralih ke bisnis ketela pada tahun 2005. “Ketela dipilih sebagai usaha mengingat ketela mudah diperoleh di seluruh Indonesia. Berkat perjuangan keras, akhirnya saya berhasil mengembangkan outlet Tela-Tela sampai Papua dan saat ini memiliki sekitar 1.600 outlet,” ujar Febri.

Selain Febri, hadir pula Drs. Kusdarto Pramono (perwakilan Gubernur DIY dan Kepala Disperindakop, Dinas Perindustrian, Perdagangan dan Koperasi) yang menyampaikan pendapatnya bahwa kreatifitas adalah basic utama dalam memasuki dunia apapun, termasuk dunia industri. Jika tidak kreatif akan sulit berkembang bahkan mungkin terpuruk.

Ir. Sumardi SM. IAI (KADIN DIY) juga menuturkan bahwa ada dua hal yang bisa dilakukan untuk membendung dampak dari krisis ekonomi global yang pertama, yaitu dengan mendorong supaya pengusaha-pengusaha melakukan reorientasi pasar, bukan hanya fokus pada sektor ekspor tetapi juga sektor domestik. Yang kedua dengan mendorong masyarakat untuk cinta produksi dalam negeri. Karena masih banyak jenis-jenis usaha seperti bisnis franchise Tela-Tela yang berkembang di Indonesia.

Sedangkan Fiqron Wasli A , Direktur Lembaga Konsultant Riset Inspect, mengatakan bahwa ada empat sektor perekonomian yang sebenarnya bisa dikembangkan. Antara lain sektor ekonomi pertanian, ekonomi industri, ekonomi informasi dan ekonomi kreatif. “Daerah Istimewa Yogyakarta sendiri memiliki prospek yang baik di bidang industri informasi dan juga industri kreatif. Hal ini karena didukung banyaknya institusi perguruan tinggi dan juga sektor-sektor kerajinan,” ungkap Fiqron.


Leave a Reply